Senin, 05 Juni 2017

KEADAAN GEREJA PADA MASA PERALIHAN



Keadaan Gereja pada Masa Peralihan
Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang dibentuk pada tahun 1602, selain mempunyai fungsi utama sebagai badan dagang, ternyata juga melaksanakan fungsi politik dan pemeliharaan terhadap agama Kristen.1
Di masa kekuasaan badan dagang ini (abad ke-17 dan ke-18) ternyata telah berkembang suatu corak Kekristenan yang khas di dalam Gereja Protestan di Maluku. Perkembangan demikian nampaknya tidak dapat dilepaskan dari kondisi riil gereja pada masa itu. Kehadiran para pendeta dan ziekentrooster bukan saja dimanfaatkan oleh gereja untuk melayani pegawai VOC tetapi juga untuk memelihara orang-orang Kristen Ambon yang sebelumnya menganut agama Katolik Roma yang kemudian di-Protestankan ketika penguasa VOC mengambil alih kekuasaan di Ambon dari tangan Portugis pada tahun 1605.2 Kekristenan yang dikembangkan oleh gereja ternyata bukan saja terdapat di “pusat” (produksi rempah-rempah) tetapi juga di daerah “pinggiran” (yang kurang strategis dari segi kepentingan dagang). Jemaat Banda, misalnya, dijadikan basis untuk pekabaran Injil ke pulau-pulau bagian Selatan. Sejak tahun 1635 diadakan pekabaran Injil ke pulau Kei, kemudian Aru, Tanimbar dan pulau-pulau Selatan Daya (Babar, Wetar, Leti, dst) dengan memakai tenaga guru. Sampai dengan abad ke-18 Kekristen-an telah diterima oleh orang-orang Maluku yang terhimpun dalam jemaat-jemaat dan tersebar di hampir seluruh daerah kepulauan Maluku. Jumlah mereka telah mencapai puluhan ribu orang. Di Ambon misalnya, tercatat 27.311 anggota yang telah dibaptis dan di Banda 1088 orang.3
Kondisi riil gereja pada masa VOC ditandai a.l. oleh metode penginjilan dan pembinaan terhadap jemaat yang dipergunakan oleh ziekentrooster yakni metode “hafalan” (menghafal pokok-pokok ajaran Kristen penting: Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli dan Dasa Titah). Juga dalam pembinaan terhadap anggota jemaat diharapkan agar pola yang dipergunakan adalah sama dengan yang dipakai oleh gereja induk di Belanda.4 Kalau penguasaan agama Kristen hanya sampai di tingkat pengetahuan saja yakni menghapal dan memelihara bentuk-bentuk yang sama sekali asing bagi mereka, maka sudah dapat diduga bahwa isi ajaran Kristen yang diterima tidak dihayati sepenuhnya dan dengan demikian tidak berfungsi membarui hidup mereka. Realitas lainnya yang nampak ialah sikap negatif yang diperlihatkan oleh orang-orang Belanda terhadap agama (dan adat/kebudayaan) asli setempat. Agama ini dianggap agama setan. Sejalan dengan itu mereka (termasuk sebagian besar para pendeta) bukannya mempelajari sungguh-sungguh, melainkan sebaliknya berusaha menghancurkan agama dan kebudayaan (adat) asli. Namun suatu kekeliruan yang dilakukan tanpa disadari yaitu mereka merasa puas apabila tempat-tempat dan simbol-simbol agama asli sudah dirusakkan. Akan tetapi karena itu ternyata isi kepercayaan agama asli sama sekali tak tersentuh oleh usaha demikian. Unsur-unsur ini tetap hidup dan berpengaruh dalam kehidupan orang-orang Kristen Maluku.
Realitas dalam kehidupan gereja seperti ini ternyata telah melahirkan suatu corak Kekristenan yang khas yang ditandai oleh unsur-unsur kedangkalan penghayatan iman kristiani, sinkritistis dan magis. Wujudnya terlihat secara jelas misalnya dalam pandangan mereka terhadap benda-benda yang mempunyai kaitan dengan gereja (Alkitab, roti perjamuan dan air bekas baptisan, gedung gereja, dan lain-lain.). Benda-benda ini dianggap bernilai sakral dalam pengertian “keramat” dan memiliki “kekuatan gaib”. Air bekas baptisan misalnya diyakini mempunyai khasiat menyembuhkan dan diberi minum kepada orang sakit. Corak Kekristenan demikian dinamakan “agama Ambon” oleh orang-orang Belanda.5
Pada parohan kedua abad ke-18 VOC mulai memperlihatkan kemunduran drastis dan akhirnya dibubarkan (31 Desember 1799) karena faktor-faktor a.l. tindakan korupsi oleh pegawai VOC sendiri dan persaingan yang ketat dari pihak lawan-lawan dagang-nya terutama Inggris.6
Sejak kemunduran yang dialami oleh VOC, kondisi demikian ternyata telah berpengaruh langsung terhadap perkembang-an gereja di daerah kekuasaannya terutama di Maluku. Hal demikian tidak dapat dihindari karena hampir semua ke-butuhan (a.l. fasilitas dan tenaga pelayan) dibiayai oleh badan dagang ini. Keterbatasan di bidang dana menyebabkan terjadi kemerosotan secara menyolok di berbagai bidang pelayanan, termasuk upaya pengadaan tenaga pelayan.
Dalam situasi kekurangan tenaga-tenaga pelayan khususnya, terutama yang berkebangsaan Belanda, upaya pembinaan dan pelayanan pada jemaat-jemaat kotapun cenderung menurun secara drastis. Juga pelayanan sakramen terutama bagi jemaat-jemaat yang terletak jauh dari pusat tidak dapat dilayankan secara kontinyu dan teratur bahkan kemudian berhenti sama sekali. Selama tahun 1780-an masih terdapat tiga pendeta yang melayani jemaat kota Ambon. Kemudian sejak tahun 1801-1815 tidak ada lagi seorang pendeta di sana. Di Saparua seorang pendeta masih bertahan sampai tahun 1801. Di Banda dan Ternate situasi tidak banyak berbeda.7 Fasilitas sebagai penopang pelayanan menjadi tak terpelihara dan semakin menciut. Kondisi gereja yang demikian, menyebabkan kinerja pelayanan yang diperlihatkan adalah sangat menurun.
Suatu hal yang agak menggembirakan ialah di dalam jemaat-jemaat, terutama di sekitar kota Ambon (pulau Ambon, Lease, Seram Selatan dan Banda) pada beberapa jemaat yang jauh (a.l. pulau-pulau Selatan Daya, Babar, Wetar, Leti, dst.) masih terdapat tenaga-tenaga pelayan Maluku. Benar, dari segi latar belakang pendidikan mungkin tidak setinggi bila dibandingkan dengan rekan-rekan pelayan asal Belanda (Khusus pendeta-pendeta  tamatan Fakultas Teologi) sehingga dari mereka tidak dapat diharapkan suatu kualitas pelayanan yang setara. Walaupun demikian dalam kenyataan, sumbangan yang diberikan oleh kelompok ini cukup penting. Mereka inilah yang tetap berperan melayani dengan penuh dedikasi sehingga melalui kehadiran dan pelayanan mereka, terutama di pulau-pulau yang jauh dari pusat, jemaat-jemaat di sana tetap eksis. Warganya tidak kembali kepada kepercayaan lama (agama suku).
Kesetiaan para pelayan Maluku terhadap tugas yang diemban dengan latar belakang pendidikan yang rendah, kelangkaan tenaga-tenaga pelayan Belanda yang berkualitas dan semakin minim dan menciutnya fasilitas pelayanan menyebabkan kehadiran gereja tetap berlangsung tetapi dalam kualitas kehidupan kerohanian anggota jemaat dan pengorganisasian gereja yang sangat rendah dan lemah.

GBU


LAPORAN BACA

A.    Nama              : Edrik Juliardo
B.     Semester         : 5
C.     Dosen              : Noh Ibrahim Boiliu, M. Th.
D.    M.Kuliah        : Teologi Perjanjian Lama 2
E.     Judul Buku    : A Biblical Theology of The Old Testament
F.      Pengarang      : Roy B. Zuck & Eugene H. Merrill
G.    Penerbit          : Gandum Mas


A.     Amsal
  1. Ajaran tentang Hikmat
                                i.            Hikmat dan tatanan penciptaan
417-418 Seperti telah dikemukakan sebelumnya, hikmat berarti memiliki kecakapan dan keberhasilan dalam berbagai hubungan dan tanggung jawab. Hikmat berkaitan dengan hal mengamati dan menuruti prinsip-prinsip tatanan dalam alam semesta yang bermoral dan yang dijadikan sang Pencipta. Tatanan ini menyatakan hikmat Allah yang tersedia bagi manusia. Jadi, sejauh menuruti tatanan ini, dia dikatakan memiliki hikmat. Memperhatikan hikmat dari Kitab Amsal, mendatangkan keserasian dalam hidup seseorang. Sebaliknya, mengabaikan rancangan ilahi Allah mendatangkan kekacauan. Ketidaktaatan pada jalan-jalan yang bijaksana dari Allah menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tidak menyenangkan dan mencelakakan bagi orang itu sendiri maupun orang lain.
                              ii.            Nilai hikmat
418 Karena bernilai tinggi bagi karakter orang yang bijaksana, maka hikmat diibaratkan dengan perak dan harta tersembunyi (2:4). Sebenarnya nilainya melebihi emas, perak, atau permata (3:14-15; 8:10-11, 19; 16:16). Orang berhikmat mengerti kebenaran, keadilan, dan kejujuran (2:9; 8:15-16), dia dilindungi atau terpelihara dari kejahatan (2:8, 11-12, 16; 4:6; 6:24; 7:5; 14:3), dan memiliki keberhasilan dan kekayaan (3:2, 16; 8:18, 21; 9:12; 14:24; 16:20; 21:20-21; 22:4), kesehatan dan makanan bergizi (3:8; 4:22), pertolongan dan nama baik (3:4; 8:34-35; 13:15), kehormatan (3:16, 35; 4:8-9; 8:18; 21:21), keamanan dan keselamatan (1:33; 3:22-23; 4:12; 12:21; 22:3; 28:26), damai sejahtera (1:33; 3:17-24), keyakinan (3:25-26), pimpinan (6:22), kehidupan (3:2, 16, 18, 22; 4:10, 22; 6:23; 8:35; 9:11; 10:16-17, 27; 11:19; 16:22; 19:23; 22:4), kesehatan (4:22), dan harapan (23:18; 24:14).
                            iii.            Personifikasi dari hikmat
421 Memberikan ciri-ciri pribadi atau orang kepada obyek-obyek tidak bernyawa atau gagasan abstrak adalah hal yang lazim dalam Perjanjian Lama. Gunung-gunung bernyanyi dan pohon-pohon bertepuk tangan (Yes. 55:12), kebenaran tersandung (59:14), dan lidah membenci (Ams. 26:28) merupakan contoh-contoh personifikasi. Tidak mengherankan jika hikmat dipersonifikasikan dalam Amsal. Kenyataan bahwa hikmat dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan dapat dijelaskan sebagian dengan fakta bahwa kata benda hokmah bertasrif feminism. Alasan lain kenapa hikmat dikatakan menarik seperti perempuan. Sama seperti laki-laki bisa tertarik dan memiliki hasrat pada kecantikan perempuan, demikianlah dia semestinya menanggapi dan memiliki hasrat pada hikmat. Personifikasi hikmat juga menambah perbedaan antara hikmat dan kebodohan. Kebodohan yang juga dipersonifikasikan sebagai perempuan (9:13-18), yang berusaha menarik pria untuk mengikutinya. Sama seperti perempuan-perempuan sundal yang menggoda laki-laki melakukan perbuatan terlarang yang mendatangkan akibat-akibat mengerikan (“kematian”), demikian juga kebodohan dapat membuat orang-orang berbuat tidak pantas yang mengakibatkan kekalahan dan kematian. Hikmat ditampilkan sebagai seorang nabiah (1:20-23; 8:1-21), saudara perempuan (7:4), seorang anak (8:22-31), seorang nyonya atau kepala pelayan (9:1-6).

422 Hikmat mempunyai peranan khusus dalam karya penciptaan Allah (8:22-31). Ia sudah ada sebelum dunia diciptakan (ay. 22-26), dan ia bersuka ria ketika berada di samping-Nya menyaksikan Dia menciptakan dunia (ay. 27-31).
424 Ketika Allah menciptakan dunia, hikmat ada serta-Nya atau di samping-Nya, artinya karya penciptaan yang dilakukan-Nya adalah satu karya yang berhikmat.

  1. Ajaran tentang Allah
                                i.            Nama-Nya
427 Kitab Amsal memakai nama Yahweh [dalam Alkitab disalin TUHAN] sebanyak delapan tujuh kali, sementara kata Elohim muncul hanya tujuh kali (2:5, 17; 3:4; 14:31; 25:2; 30:5, 9) dan Eloah muncul satu kali (30:5). Allah juga disebut Yang Mahakudus (9:10; 30:30), Yang Mahaadil (21:12), Yang Membela Perkara (23:11), dan Pencipta (14:31; 17:5; 22:2).
                              ii.            Sifat-sifat-Nya
427-428  Sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Kitab Amsal mencakup kekudusan-Nya (Yang Mahakudus,” 9:10; 30:3), kemahahadiran-Nya (5:21; 15:3), kemahakuasaan-Nya (sebagai sang Pencipta alam semesta [3:19-20; 8:22-31; 30:4] dan telinga dan mata manusia [20:12; 29:13], Pencipta orang miskin [14:31; 17:5; 22:2] maupun orang kaya [22:2], dan kemahatahuan-Nya (dalam menilik dan mengetahui kematian [15:11], perilaku manusia [5:21; 21:2], motivasi manusia [16:2], dan hati manusia [17:3; 20:27; 24:12] dan dalam melihat yang baik dan yang jahat [15:3], dan orang-orang yang senang melihat orang lain celaka [4:16-17]. Allah juga mempunyai kedaulatan, mengerjakan segala sesuatu untuk maksud-maksud-Nya [16:4; 19:21], bahkan menetapkan keputusan-keputusan manusia [16:33] dana rah langkah manusia [ay. 9] mengarahkan hati (atau kepentingan dan keputusan-keputusan) raja [21:1], dan menggantikan setiap rencana manusia [19:21; 21:30]. Allah mempunyai hikmat (3:19-20) dan keadilan. Melalui keadilan-Nya (29:26) Dia menjadi yang Mahaadil (21:12) yang menggagalkan dan menghukum orang fasik (3:33; 10:3; 11:8; 21:12; 22:12), orang licik (12:2), dan orang congkak (15:25), dan Dia membela orang lemah dan tertindas (22:22-23; 23:10-11). Keadilan-Nya tidak memandang muka karena Dia membalas orang menurut perbuatannya (20:22; 24:12). Kepribadian Allah jelas dalam hal Dia mengasihi dan memberikan didikan atau teguran (3:12), membenci perkara-perkara tertentu (6:16:19), kesukaan-Nya (akan kejujuran dalam berniaga, 11:1; dan akan perilaku yang tak bercela, ay. 20 [bdg. 16:7a]; akan orang yang berlaku setia; dan akan doa-doa dan kebenaran orang yang takut kepada Allah, 15:8-9).
                            iii.            Perbuatan-perbuatan-Nya
428-429 Paragraf-paragraf yang terdahulu menunjukkan bahwa sifat-sifat Allah menyingkapkan perbuatan-perbuatan-Nya. Antara lain menciptakan, melihat, mengawasi, memberikan tujuan, mempengaruhi, mengarahkan, menghukum, membela, membenci, mengasihi, dan memperlihatkan kesukaan. Perbuatan-perbuatan lain termasuk memberikan hikmat (1:7; 2:6), memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati (3:34), melindungi orang benar (2:7-8; 3:26; 10:29; 14:26; 15:25; 18:10; 19:23; 29:25; 30:5), memelihara orang benar (10:3), menyelamatkan orang benar (20:22), memberkati kehidupan (10:27), memberikan isteri yang bijak kepada para lelaki (18:22; 19:14), membimbing orang yang percaya kepada-Nya (3:5-6), memberikan perkataan yang harus diucapkan orang (16:1), mengarahkan langkah-langkah orang (ay. 9; 20:24) dan keputusan-keputusannya (16:33), dan mendengarkan doa-doa orang benar (15:29).
  1. Ajaran tentang Manusia
429 Amsal sering menggunakan ungkapan tentang langkah atau jalan, seperti yang sudah dinyatakan. Melalui metomini sebuah langkah atau jalan akhirnya menggambarkan perilaku hidup orang yang berjalan ke arah itu atau sepanjang jalan itu. Ungkapan ini menyarankan pilihan, satu keputusan mengenai yang mana dari dua jenis hidup seseorang hendak jalani. Dua ajakan yang berlawanan – mengikuti perilaku yang hikmat atau perilaku yang bodoh (8:1; 9:1-6, 13-18) – meminta kita memilih. Kiasan ini juga meminta perhatian akan akhir yang berbeda dari jalan itu, konsekuensi dari dua jenis jalan hidup. Dua jalan itu ialah jalan hidup orang benar dan jalan hidup orang fasik, yang juga dikenal sebagai jalan hikmat dan jalan kebodohan. Semua orang bisa benar/berhikmat atau fasik/bodoh. Jalan kebenaran atau hikmat adalah jalan kebajikan, sementara jalan kefasikan atau kebodohan adalah jalan jahat.
436 Teologi Kitab Amsal yang luas dan mencakup semua topik, menggambarkan secara jelas dua jalan (jenis tingkah laku) hikmat/kebenaran dan kebodohan/kefasikan. Hal itu diterangkan sangat beragam, secara rumit menguraikan ciri-ciri dan konsekuensi-konsekuensi dua jalan itu. Tidak seorang pun bisa menjadi benar-benar bijak (berhasil dalam hidup), tanpa takut akan Tuhan dan mengindahkan perintah-perintah langsung, peringatan-peringatan keras, ketaatan yang keras, dan penyelidikan terhadap peribahasa-peribahasa yang disajikan dalam Kitab Amsal.
   
B.     Tanggapan
 Kitab Amsal mewakili warisan dari orang-orang bijaksana Ibrani. Orang-orang bijaksana adalah para penasihat yang biasanya dikaitkan dengan istana raja seperti digambarkan dalam kitab Amsal. Mereka adalah penyusun dan penghimpun sastra hikmat, baik dari Bahasa Ibrani maupun dari Bahasa-bahasa asing lainnya. Sebagai para pengajar tradisi hikmat sasaran mereka adalah menimbang, menguji, dan menyusun banyak Amsal. Kata Amsal berasal dari Bahasa Ibrani “Masyal” yang akar katanya berarti menyerupai atau dibandingkan dengan. Lebih luas kata ini berarti termasuk gagasan, perbandingan, peraturan tingkah laku, dan penemuan kebenaran yang tersembunyi. Pada dasarnya Kitab Amsal adalah sekumpulan perbandingan atau dasar pengamatan dan pemikiran yang bermaksud untuk mengajar orang-orang dalam tingkah laku yang benar. Secara terperinci tujuan Kitab ini dinyatakan dalam prolog kumpulan hikmat yaitu;
1)      Mengetahui hikmat dan pengajaran.
2)      Menerima didikan untuk bertindak dengan bijaksana.
3)      Memberikan kecerdasan kepada orang-orang sederhana dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.
4)      Meningkatkan kemauan belajar dan kecakapan dalam pengertian.
5)      Mengerti Amsal, perumpamaan, perkataan orang bijak, dan teka teki.
6)      Belajar takut akan Tuhan.
Dalam Kitab Amsal terdapat pokok teologis tentang Allah. Dalam hal ini manusia harus takut akan Allah, artinya:
1)      Manusia harus mengenal Tuhan dan mengerti perintah-Nya (2:5; 9:10; 3:6).
2)      Manusia harus percaya firman Tuhan dalam segala hal (3:5-6; 19:21; 21:31; 29:25).
Kitab Amsal juga membahas pokok teologis tentang hikmat. Hikmat mempunyai beberapa sifat/karakteristik, yaitu pengertian /akal budi (1:2; 6:32; 10:13); didikan/teguran (1:2-3, 23; 3:11); kepandaian (1:3; 2:2, 6); kecerdasan/kebijaksanaan (1:4; 22:3); pengetahuan/ilmu (1:5, 7; 2:10).

Kamis, 22 Oktober 2015

SUNDAY SCHOOL

Dimulai dari krisis ekonomi di Inggris pada abad ke-18. Robert Raikes yang adalah wartawan surat kabar di Inggris meliput berita mengenai keadaan tersebut. Dalam tugasnya tersebut, Raikes menemui banyak anak-anak yang harus menjadi tenaga kerja di pabrik-pabrik sebagai buruh kasar. Mereka bekerja dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Pada hari Minggu mereka libur.

Anak-anak tersebut memiliki uang sendiri untuk mereka belanjakan, hasil dari upah mereka sebagai buruh. Hari Minggu mereka habiskan untuk bersenang-senang. Minum-minuman keras, berjudi, bertingkah liar, dan tindakan-tindakan yang tidak terpuji lainnya.

Hati Raikes tergerak. Dia lantas membuka sebuah kelas yang terletak di sebuah dapur kecil milik Meredith di kota Scooty Alley. Kelas tersebut dibuka setiap hari Minggu. Awalnya anak-anak diajarkan sopan santun, kebersihan, membaca, menulis, dan sebagainya. Perkembangan selanjutnya mulai diajarkan ajaran-ajaran Alkitab.

Kelas ini berkembang. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadakan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.

Ketika Robert Raikes meninggal dunia pada tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Gerakan di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika.

sejarah GBI

Gereja Bethel Indonesia, disingkat GBI, adalah salah satu sinode gereja di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GBI juga merupakan anggota dari Dewan Pentakosta Indonesia (DPI) dan Persekutuan Injili Indonesia (PII).
Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Ho) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.




Pada tahun 1922, Pendeta W.H. Offiler dari Bethel Pentecostal Temple Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, mengutus dua orang misionarisnya ke Indonesia, yaitu Pdt. Van Klaveren dan Groesbeek, orang Amerika keturunan Belanda.

Pada mulanya mereka memberitakan Injil di Bali, tetapi kemudian pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel, seorang Kristen Injili yang bekerja pada Perusahaan Minyak Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Van Gessel pada tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian Vrije Evangelisatie Bond yang dipimpin oleh Pdt. C.H. Hoekendijk (ayah dari Karel Hoekendjik).


Groosbeek kemudian menetap di Cepu dan mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel. Sementara itu, Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur.

Januari 1923, Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima Baptisan Roh Kudus dan demikian pula dengan suaminya beberapa bulan setelahnya.

Tanggal 30 Maret 1923, pada hari raya Jumat Agung, Groesbeek mengundang Pdt. J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung dalam rangka pelayanan baptisan air pertama kalinya di Jemaat Cepu ini. Pada hari itu, lima belas jiwa baru dibaptiskan.


Dalam kebaktian-kebaktian berikutnya, bertambah-tambah lagi jemaat yang menerima Baptisan Roh Kudus, banyak orang sakit mengalami kesembuhan secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu.

Inilah permulaan dari gerakan Pentakosta di Indonesia. Berempat, Van Klaveren, Groesbeek, Van Gessel, dan Pdt. J. Thiessen, berempat merupakan pionir dari "Gerakan Pentakosta" di Indonesia.

Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya, dan Van Gessel telah menjadi Evangelis yang meneruskan memimpin Jemaat Cepu.


April 1926, Groesbeek dan Van Klaveren berpindah lagi ke Batavia (Jakarta). Sementara Van Gessel meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya untuk memimpin Jemaat Surabaya.

Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang di mana-mana, sehingga mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang Gereja Pantekosta di Indonesia).

Pada 1932, Jemaat di Surabaya ini membangun gedung Gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk (gereja yang terbesar di Surabaya pada waktu itu).

Tahun 1935, Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”.

Gereja Bethel Pentecostal Temple, Seattle, kemudian mengurus beberapa misionaris lagi. Satu di antaranya yaitu, W.W. Patterson membuka Sekolah Akitab di Surabaya (NIBI: Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, para misionaris itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.

Sesudah pecah perang, maka pimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua Gereja Pentakosta di Indonesia untuk menggantikan Van Gessel.

Jemaat gereja yang seharusnya menjaga jarak dari sikap politik yang terpecah belah terjebak dalam nasionalisme yang tengah berkobar-kobar pada saat itu. Akibatnya roh nasionalisme meliputi suasana kebaktian dalam gereja-gereja Pentakosta. Van Gessel menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.

Kondisi rohani Gereja Pentakosta di saat itu menyebabkan ketidakpuasan di sebagian kalangan pendeta-pendeta Gereja tersebut. Ketidakpuasan ini juga ditambah lagi dengan kekuasaan otoriter dari Pengurus Pusat Gereja.

Akibatnya, sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, di antaranya adalah Pdt. H.L. Senduk.

Pada tanggal 21 Januari 1952, di kota Surabaya, mereka kemudian membentuk suatu organisasi gereja baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).

Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). Senduk berperan sebagai Pendeta dari jemaatnya di Jakarta, sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di Jakarta dan Surabaya.

Pada tahun 1954, Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu di bawah Pemerintahan Belanda). Jemaat Surabaya diserahkannya kepada menantunya, Pdt. C. Totays.

Di Hollandia (sekarang Jayapura). Van Gessel membentuk suatu organisasi baru yang bernama Bethel Pinkesterkerk (sekarang Bethel Pentakosta). Van Gessel kemudian meninggal dunia pada tahun 1957 dan kepemimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk diteruskan oleh Pdt. C. Totays.

Tahun 1962, sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka semua warga negara Kerajaan Belanda harus kembali ke negerinya. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan Pendeta-pendeta Indonesia.

Roda sejarah berputar terus, dan GBIS di bawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Bermacam-macam kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi organisasi ini. Namun semakin besarnya organisasi, begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi.

Pada 1968-1969, kepemimpinan Senduk di GBIS diambil alih oleh pihak-pihak lain yang disokong suatu keputusan Menteri Agama. Senduk dan pendukungnya memisahkan diri dari organisasi GBIS.

6 Oktober 1970, H.L. Senduk dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi Gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan diakui pemerintah secara sah pada tahun 1972 sebagai suatu Kerkgenootschap yang berhak hidup dan berkembang di bumi Indonesia.

Pdt H.L. Senduk melayani Gereja Bethel Indonesia Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt Helen Theska Senduk, Pdt Thio Tjong Koan, dan Pdt Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt H.L. Senduk memanggil anak rohaninya, Pdt S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di Gereja Bethel Indonesia Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang Gereja Bethel Indonesia Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun 1963.

Pdt HL Senduk berpulang ke Rumah Bapa pada tanggal 26 Februari 2008, setelah lebih dahulu ditinggal istrinya tercinta. Ia meninggalkan visi 10000 gereja Gereja Bethel Indonesia bagi generasi berikutnya.

kunci untuk tetap setia di dalam TUHAN

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (Matius 24:13)

Kesetiaan dan ketaatan adalah teladan Tuhan kita Yesus Kristus, itulah sebabnya Allah Bapa sangat meninggikan-Nya dan mengaruniakan kepada-Nya Nama diatas nama (Filipi 2:8-11). Kepada para jemaat di Asia kecil, Tuhan kita Yesus Kristus menganjurkan mereka untuk setia sampai mati, karena ada mahkota kehidupan tersedia bagi mereka (Wahyu 2:10; 3:5).

Hal yang sama juga Tuhan inginkan dari kita saat ini, Ia mau agar pada akhirnya nanti, kita kedapatan sebagai orang-orang yang taat dan setia. Taat dan setia adalah proses yang harus kita jalani selama hidup di dunia ini. Simak 4 langkah berikut ini yang akan membantu kita untuk tetap setia di dalam Tuhan, yakni:

1. Dedikasikan diri kepada Tuhan (Roma 14:8). Banyak orang Kristen yang kurang berserah kepada kehendak Tuhan, mereka lebih cenderung memikirkan kepentingan pribadi, segala sesuatu berpusat pada diri sendiri.

Untuk menjadi orang yang tetap setia di dalam Tuhan, maka keegoisan diri harus kita kesampingkan, Allah harus mendapatkan tempat teratas di dalam hidup kita, Dia harus menjadi sentral hidup kita. (Band. Roma 12:1-2).

2. Tetap bergantung pada Tuhan (Amsal 3:5-6). Banyak orang menggeser Tuhan dari rencana yang mereka buat, mereka bergantung pada kekuatannya sendiri atau pada orang lain. Karena itu mereka gagal (Yohanes 15:5).

Arus modernisasi dunia menawarkan berbagai kemudahan di segala bidang kehidupan mengakibatkan banyak orang tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Bagi mereka, Tuhan adalah penolong cadangan yang hanya dibutuhkan saat mereka sudah benar-benar dalam keadaan genting. Sebagai anak-anak Tuhan, janganlah kita hidup seperti orang-orang dunia ini! Biarlah kita tetap taat dan setia dengan jalan bergantung mutlak kepada-Nya setiap saat.

Mahkota kehidupan adalah hadiah terindah yang akan diterima oleh orang-orang yang taat dan setia sampai akhir

3. Tetap bersukacita di dalam Dia (Filipi 4:4). Banyak orang berpikir negatif, itu sebabnya mereka putus asa dan menyerah di tengah jalan. Kita harus bersukacita di dalam Tuhan senantiasa. Jika kita menghitung berkat Tuhan dan melihat hal yang baik di dalam diri orang lain, maka kita akan terdorong untuk tetap setia di dalam Tuhan (Roma 12:12-21). Tetaplah bersukacita, apapun keadaan kita!

4. Rajin untuk Dia (II Korintus 5:14). Banyak orang begitu peduli dalam menyenangkan dirinya sendiri, namun mereka malas dan masa bodoh dalam perkara-perkara rohani. Kita harus rajin bekerja untuk Tuhan.

Saat kita menolong mereka yang berada dalam kebutuhan dan membawa Kristus bagi mereka yang terhilang, maka kita akan menerima berkat yang membantu kita untuk tetap setia di dalam Tuhan.

Akhirnya, marilah kita meneladani Tuhan Yesus Kristus yang setia sampai akhir hidup-Nya! Lakukan keempat hal diatas sebagai kunci agar kita tetap taat dan setia di dalam Tuhan. Mintalah kekuatan dan pimpinan Roh Kudus, sehingga kita mampu menjalani semuanya itu dengan sukacita!