Kamis, 22 Oktober 2015

SUNDAY SCHOOL

Dimulai dari krisis ekonomi di Inggris pada abad ke-18. Robert Raikes yang adalah wartawan surat kabar di Inggris meliput berita mengenai keadaan tersebut. Dalam tugasnya tersebut, Raikes menemui banyak anak-anak yang harus menjadi tenaga kerja di pabrik-pabrik sebagai buruh kasar. Mereka bekerja dari hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Pada hari Minggu mereka libur.

Anak-anak tersebut memiliki uang sendiri untuk mereka belanjakan, hasil dari upah mereka sebagai buruh. Hari Minggu mereka habiskan untuk bersenang-senang. Minum-minuman keras, berjudi, bertingkah liar, dan tindakan-tindakan yang tidak terpuji lainnya.

Hati Raikes tergerak. Dia lantas membuka sebuah kelas yang terletak di sebuah dapur kecil milik Meredith di kota Scooty Alley. Kelas tersebut dibuka setiap hari Minggu. Awalnya anak-anak diajarkan sopan santun, kebersihan, membaca, menulis, dan sebagainya. Perkembangan selanjutnya mulai diajarkan ajaran-ajaran Alkitab.

Kelas ini berkembang. Dalam waktu empat tahun sekolah yang diadakan pada hari Minggu itu semakin berkembang bahkan ke kota-kota lain di Inggris. Dan jumlah anak-anak yang datang ke sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh Inggris.

Ketika Robert Raikes meninggal dunia pada tahun 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Gerakan di Inggris ini akhirnya menjalar ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya dan ke Amerika.

sejarah GBI

Gereja Bethel Indonesia, disingkat GBI, adalah salah satu sinode gereja di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GBI juga merupakan anggota dari Dewan Pentakosta Indonesia (DPI) dan Persekutuan Injili Indonesia (PII).
Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Ho) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.




Pada tahun 1922, Pendeta W.H. Offiler dari Bethel Pentecostal Temple Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, mengutus dua orang misionarisnya ke Indonesia, yaitu Pdt. Van Klaveren dan Groesbeek, orang Amerika keturunan Belanda.

Pada mulanya mereka memberitakan Injil di Bali, tetapi kemudian pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel, seorang Kristen Injili yang bekerja pada Perusahaan Minyak Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Van Gessel pada tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian Vrije Evangelisatie Bond yang dipimpin oleh Pdt. C.H. Hoekendijk (ayah dari Karel Hoekendjik).


Groosbeek kemudian menetap di Cepu dan mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel. Sementara itu, Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur.

Januari 1923, Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima Baptisan Roh Kudus dan demikian pula dengan suaminya beberapa bulan setelahnya.

Tanggal 30 Maret 1923, pada hari raya Jumat Agung, Groesbeek mengundang Pdt. J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung dalam rangka pelayanan baptisan air pertama kalinya di Jemaat Cepu ini. Pada hari itu, lima belas jiwa baru dibaptiskan.


Dalam kebaktian-kebaktian berikutnya, bertambah-tambah lagi jemaat yang menerima Baptisan Roh Kudus, banyak orang sakit mengalami kesembuhan secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu.

Inilah permulaan dari gerakan Pentakosta di Indonesia. Berempat, Van Klaveren, Groesbeek, Van Gessel, dan Pdt. J. Thiessen, berempat merupakan pionir dari "Gerakan Pentakosta" di Indonesia.

Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya, dan Van Gessel telah menjadi Evangelis yang meneruskan memimpin Jemaat Cepu.


April 1926, Groesbeek dan Van Klaveren berpindah lagi ke Batavia (Jakarta). Sementara Van Gessel meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya untuk memimpin Jemaat Surabaya.

Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang di mana-mana, sehingga mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang Gereja Pantekosta di Indonesia).

Pada 1932, Jemaat di Surabaya ini membangun gedung Gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk (gereja yang terbesar di Surabaya pada waktu itu).

Tahun 1935, Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”.

Gereja Bethel Pentecostal Temple, Seattle, kemudian mengurus beberapa misionaris lagi. Satu di antaranya yaitu, W.W. Patterson membuka Sekolah Akitab di Surabaya (NIBI: Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, para misionaris itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.

Sesudah pecah perang, maka pimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua Gereja Pentakosta di Indonesia untuk menggantikan Van Gessel.

Jemaat gereja yang seharusnya menjaga jarak dari sikap politik yang terpecah belah terjebak dalam nasionalisme yang tengah berkobar-kobar pada saat itu. Akibatnya roh nasionalisme meliputi suasana kebaktian dalam gereja-gereja Pentakosta. Van Gessel menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.

Kondisi rohani Gereja Pentakosta di saat itu menyebabkan ketidakpuasan di sebagian kalangan pendeta-pendeta Gereja tersebut. Ketidakpuasan ini juga ditambah lagi dengan kekuasaan otoriter dari Pengurus Pusat Gereja.

Akibatnya, sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, di antaranya adalah Pdt. H.L. Senduk.

Pada tanggal 21 Januari 1952, di kota Surabaya, mereka kemudian membentuk suatu organisasi gereja baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).

Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). Senduk berperan sebagai Pendeta dari jemaatnya di Jakarta, sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di Jakarta dan Surabaya.

Pada tahun 1954, Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu di bawah Pemerintahan Belanda). Jemaat Surabaya diserahkannya kepada menantunya, Pdt. C. Totays.

Di Hollandia (sekarang Jayapura). Van Gessel membentuk suatu organisasi baru yang bernama Bethel Pinkesterkerk (sekarang Bethel Pentakosta). Van Gessel kemudian meninggal dunia pada tahun 1957 dan kepemimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk diteruskan oleh Pdt. C. Totays.

Tahun 1962, sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka semua warga negara Kerajaan Belanda harus kembali ke negerinya. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan Pendeta-pendeta Indonesia.

Roda sejarah berputar terus, dan GBIS di bawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Bermacam-macam kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi organisasi ini. Namun semakin besarnya organisasi, begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi.

Pada 1968-1969, kepemimpinan Senduk di GBIS diambil alih oleh pihak-pihak lain yang disokong suatu keputusan Menteri Agama. Senduk dan pendukungnya memisahkan diri dari organisasi GBIS.

6 Oktober 1970, H.L. Senduk dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi Gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan diakui pemerintah secara sah pada tahun 1972 sebagai suatu Kerkgenootschap yang berhak hidup dan berkembang di bumi Indonesia.

Pdt H.L. Senduk melayani Gereja Bethel Indonesia Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt Helen Theska Senduk, Pdt Thio Tjong Koan, dan Pdt Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt H.L. Senduk memanggil anak rohaninya, Pdt S.J. Mesach dan Pdt Olly Mesach untuk membantu pelayanan di Gereja Bethel Indonesia Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang Gereja Bethel Indonesia Jemaat Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak tahun 1963.

Pdt HL Senduk berpulang ke Rumah Bapa pada tanggal 26 Februari 2008, setelah lebih dahulu ditinggal istrinya tercinta. Ia meninggalkan visi 10000 gereja Gereja Bethel Indonesia bagi generasi berikutnya.

kunci untuk tetap setia di dalam TUHAN

Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (Matius 24:13)

Kesetiaan dan ketaatan adalah teladan Tuhan kita Yesus Kristus, itulah sebabnya Allah Bapa sangat meninggikan-Nya dan mengaruniakan kepada-Nya Nama diatas nama (Filipi 2:8-11). Kepada para jemaat di Asia kecil, Tuhan kita Yesus Kristus menganjurkan mereka untuk setia sampai mati, karena ada mahkota kehidupan tersedia bagi mereka (Wahyu 2:10; 3:5).

Hal yang sama juga Tuhan inginkan dari kita saat ini, Ia mau agar pada akhirnya nanti, kita kedapatan sebagai orang-orang yang taat dan setia. Taat dan setia adalah proses yang harus kita jalani selama hidup di dunia ini. Simak 4 langkah berikut ini yang akan membantu kita untuk tetap setia di dalam Tuhan, yakni:

1. Dedikasikan diri kepada Tuhan (Roma 14:8). Banyak orang Kristen yang kurang berserah kepada kehendak Tuhan, mereka lebih cenderung memikirkan kepentingan pribadi, segala sesuatu berpusat pada diri sendiri.

Untuk menjadi orang yang tetap setia di dalam Tuhan, maka keegoisan diri harus kita kesampingkan, Allah harus mendapatkan tempat teratas di dalam hidup kita, Dia harus menjadi sentral hidup kita. (Band. Roma 12:1-2).

2. Tetap bergantung pada Tuhan (Amsal 3:5-6). Banyak orang menggeser Tuhan dari rencana yang mereka buat, mereka bergantung pada kekuatannya sendiri atau pada orang lain. Karena itu mereka gagal (Yohanes 15:5).

Arus modernisasi dunia menawarkan berbagai kemudahan di segala bidang kehidupan mengakibatkan banyak orang tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Bagi mereka, Tuhan adalah penolong cadangan yang hanya dibutuhkan saat mereka sudah benar-benar dalam keadaan genting. Sebagai anak-anak Tuhan, janganlah kita hidup seperti orang-orang dunia ini! Biarlah kita tetap taat dan setia dengan jalan bergantung mutlak kepada-Nya setiap saat.

Mahkota kehidupan adalah hadiah terindah yang akan diterima oleh orang-orang yang taat dan setia sampai akhir

3. Tetap bersukacita di dalam Dia (Filipi 4:4). Banyak orang berpikir negatif, itu sebabnya mereka putus asa dan menyerah di tengah jalan. Kita harus bersukacita di dalam Tuhan senantiasa. Jika kita menghitung berkat Tuhan dan melihat hal yang baik di dalam diri orang lain, maka kita akan terdorong untuk tetap setia di dalam Tuhan (Roma 12:12-21). Tetaplah bersukacita, apapun keadaan kita!

4. Rajin untuk Dia (II Korintus 5:14). Banyak orang begitu peduli dalam menyenangkan dirinya sendiri, namun mereka malas dan masa bodoh dalam perkara-perkara rohani. Kita harus rajin bekerja untuk Tuhan.

Saat kita menolong mereka yang berada dalam kebutuhan dan membawa Kristus bagi mereka yang terhilang, maka kita akan menerima berkat yang membantu kita untuk tetap setia di dalam Tuhan.

Akhirnya, marilah kita meneladani Tuhan Yesus Kristus yang setia sampai akhir hidup-Nya! Lakukan keempat hal diatas sebagai kunci agar kita tetap taat dan setia di dalam Tuhan. Mintalah kekuatan dan pimpinan Roh Kudus, sehingga kita mampu menjalani semuanya itu dengan sukacita!

Lukas 9:28-36

Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus,  lalu naik ke atas gunung untuk berdoa.  9:29  Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. 9:30 Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. 9:31 Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya  yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. 9:32 Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur  dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. 9:33 Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru,  betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. 9:34 Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. 9:35 Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” 9:36 Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu.
 
Jika kita banyak berdoa :
1. Hidup kita berubah
Ayat 28 : Tuhan ke gunung atas gunung untuk berdoa.
Ayat 29 : rupa wajah-NYA berubah dan pakaianNya menjadi putih berkilau-kilauan.
Pdt.Jacob Nahuway lahir tanggal 25 Februari. istrinya bertanya : minta apa? Tetapi sebenarnya hanya perlu berdoa.
“Sebab Banyak doa – banyak berkat, sediki berdoa – sedikit berkat, tidak berdoa – tidak ada berkat.”
Kalau kita banyak berdoa maka kita berubah.
2. Akan ada yang membantu kita.
Lihat ayat 30 : maka datanglah Musa dan Elia.
Pdt.Jacob Nahuway telah menulis 21 buku, dan sedang dalam penulisan buku ke 22 nya.. 4 buku yang beliau tulis sudah di minta dapertemen agama untuk dicetak ribuan eksemplar untuk dibagikan ke sekolah alkitab di seluruh indonesia.
Musa dan Elia adalah orang yang menolong kita.
Kesaksian : Saat membangun gereja mawar sharon GBI Pdt.Jacob nahuway perlu dana ratusan milyar untuk membangun gereja. maka ada orang yang akan dipakai memberikan mobil mewah yang hanya 3 orang di Indonesia yang seharga milyar-an.
3. Tujuan kehidupan yang jelas
ayat 31 : banyak berdoa akan dijelaskan Tujuan hidup kita.
Apa yang men-drive hidup saudara? jika kita tau tujuan hidup kita maka hidup kita akan lebih baik.
kita tidak hidup hanya untuk hidup enak, bebas banjir, atau bahkan tidak cuma hidup sesuap nasi.
apakah hidup kita sudah mengembangkan talenta yang ada? kita harus melipatgandakan. 1 talenta jadi 2, 2 jadi 4 talenta, 5 jadi 10 talenta.
Hidup (life) adalah nafas-nya Allah.
Firman berkata : Nyatakan lah keinginanmu kepada Allah.
Orang bodoh pun bisa menyatakan keinginan-nya, tidak butuh orang pintar atau bahkan lulusan luar negeri.
Semua orang dapat melakukannya.
Jika kalau mau minta berkat baru, maka kita harus beri / kuras berkat lama kita. jika tidak nama nya bukan berkat baru, tetapi berkat setengah baru.
4. Mendengar suara Tuhan
ayat 35 :  “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia
Berapa banyak kita di tipu? atau bahkan jadi penipu padahal sudah anak Tuhan?
Tuhan akan kasih tau mana rekan bisnis kita, jodoh kita, dan orang yang tepat. Bisnis kita tidak di tipu orang.

5. Yesus ditinggikan
Ayat 36 : Yesus tinggal seorang diri
akhirnya musa dan elia pergi. maka hanya Yesus sendiri yang di tinggikan.
Kalau kita banyak berdoa kita lebih cinta Yesus, menjadi lebih dari segalanya (bahkan harus lebih dari suami,istri,anak,dan lain-lainnya..).
Hanya Yesus lah yang harus di tinggikan dari segalanya.

Mengapa kita percaya alkitab sebagai firman Allah?

Alkitab telah dicetak sebanyak 4,7 Miliar exemplar di dunia. Pertanyaanya mengapa Alkitab menjadi buku yang paling banyak diterjemahkan dan paling banyak dicetak di dunia? Karena Alkitab berisi penggenapan nubuatan firman Tuhan. Dalam Matius 2:5-6, Waktu orang Majus datang ke Yerusalem, mereka punya pemikiran bahwa raja harus dilahirkan di Istana karena orang-orang Majus ini melihat ada bintang yang menandakan lahirnya seorang Raja orang Yahudi.
Karena itu, penggenapan firman Tuhan dalam kedatangan Kristus, itu adalah bagian yang sudah dinubuatkan dalam Matius 2:1.5,17 dan 22. Ada ungkapan: Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi. Jadi kedatangan Tuhan Yesus, menggenapi apa yang dinubuatkan oleh para nabi. Dalam Matius 5:17, Yesus berkata: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
Meniadakan melainkan untuk mengenapinya."
Pertama, Mengapa kita percaya Alkitab sebagai Firman Tuhan? Karena itu Alkitab berisi penggenapan-penggenapan akan janji-janji Tuhan.
Janji Tuhan tidak seperti janji politisi. Didalam Alkitab ini kita melihat ada janji Tuhan yang luar biasa. Didalam Perjanjian lama, ada terdapat 23.210 ayat dan terdapat 6641 ayat tentang nubuatan. Dalam Perjanjian Baru, terdapat 7.9l9 ayat terdapat 1.711 tentang nubuatan (21.5%) Dan dari seluruh nubuatan yang ada 80% sudah digenapi secara akurat, nubuatan tentang Kristus ada 322 nubuatan Perjanjian Lama tentang Kristus dan kita baca dalam Perjanjian Baru penggenapan yaitu kedatangan-Nya, pendahulunya Yohanes Pembaptis, tahun-tahun pertama kehidupan-Nya, misi kedatangan dan jabatan-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, Kenaikan-Nya, dan kedatangan-Nya kembali. Sekarang hanya satu saja yang belum digenapi yaitu kedatangan-Nya kembali. Kenapa kita percaya Alkitab? Karena dalam Alkitab penggenapan firman Tuhan begitu luar biasa.
Kedua, Mengapa kita percaya kepada Alkitab sebagai firman Tuhan? Karena Alkitab menjadi pedoman hidup.
Sebagai contoh Tuhan Yesus sendiri dalam Matius 4 waktu dicobai di padang gurun, Tuhan Yesus menjadikan firman Tuhan sebagai senjata rohani. Dalam ayat 4, Yesus menjawab: “Ada tertulis Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Tuhan Yesus datang ke dalam dunia misinya untuk menyelamatkan umat manusia, Tuhan Yesus menebus kita dengan cara mati. di atas kayu salib, Tuhan Yesus tidak mau pakai jalan pintas. Karena itu orang yang Korupsi, dia tidak mau belajar untuk melewati sebuah proses, orang percaya menerima kemuliaan harus melewati salib, kalau kita mau mengalami kemuliaan Tuhan lewati jalan salib, siap bayar harga. Tuhan Yesus mengutip Ulangan 6:10, “Enyalah lblis! Sebab ada turtulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti." Tuhan Yesus melayani berdasarkan Alkitab, jadi Tuhan Yesus menjadi teladan bagi kita, di dalam pelayanan-Nya Tuhan Yesus mengajar dengan 17 kisah dan pribadi dari Alkitab. Tuhan Yesus menguip 19 ayat secara langsung ketika melayani dan mengajar, karena itu Alkitab harus menjadi pedoman hidup bagi orang percaya. Kesalahan Hawa pada waktu di taman Eden adalah: dia mengurangi firman Tuhan. Karena itu kalau kita mau menjadi orang Kristen yang mau diberkati, jangan pemah mengurangi firman, kita juga harus orang yang percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Jangan mengubah firman Tuhan, jangan menambahi fiman Tuhan, jangan mengurangi firman Tuhan tetapi bacalah firman Tuhan dengan perkataan ya dan amin, dan kita menerima apa adanya.
Ketiga, mengapa kita percaya kepada Alkitab? Karena Alkitab memberikan pertumbuhan iman bagi kita.
Didalam Matius 13, disini Tuhan Yesus mengajar perumpamaan bagaimana orang bisa bertumbuh didalam iman, Matius 13:3, Yesus mengucapkan dalam berbagai macam hal tentang perumpamaan kepada murid-murid-Nya, katanya; Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Ternyata dalam ayat 19 ada benih yaitu firnan Tuhan yang ditabur di pinggir jalan. Selanjutnya, Ia berkata: Kepada setiap orang yang mendengar fiman tentang kerajaan Sorga tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampa yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih ditaburkan dipinggir jalan. Kenapa kita harus percaya, Alkitab adalah firman Tuhan? Karena firman Tuhan itu yang menumbuhkan iman kita, tetapi kenapa ada orang Kristen yang tidak bertumbuh imannya? Karena ia tidak mengerti kebenaran firman Tuhan. Kalau ia tidak mengerti, dalam ayat 19, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu. Orang Kristen harus sungguh-sungguh mengerti kebenaran firman Tuhan dan kalau kita mau jadi orang Kristen yang kuat kita harus berakar dan bertumbuh didalam Dia. Ada orang Kristen datang ke gereja tetapi ia tidak mengerti firman, dia keluar dan tidak melakukan apa-apa,akibatnya dia tldak tahan ketika menghadapi tantangan. Ada benih yang ditaburkan ditengah semak duri, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Ada orang sudah berbuah tetapi firman itu dihimpit di tengah semak berduri kenapa? Karena kekhawatiran dan tipu daya kekayaan. Banyaknya kekayaan yang kita miliki tidak menjamin kita untuk semakin suka cita, karena orang seringkali khawatir menyangkut soal materi. Ada orang Kristen, dia dengar firman tetapi tetap saja khawatir padahal dari sepuluh kekhawatiran kita, sembilannya tidak pernah menjadi kenyataan.
Karena itu Tuhan selalu mencukupi kebutuhan kita karena janji Tuhan adalah ya dan amin dalam hidup kita. Kenapa kita percaya bahwa Alkitab adalah frman Tuhan! Karena firman Tuhan menumbuhkan iman kita. Kita harus seperti benih di tanah yang baik. Benih itu ketika didengar, orang. Itu berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat dan ada yang tiga puluh kali lipat. Dalam Lukas 8:15 dikatakan: Benih yang jatuh ditanah yang baik ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan. Orang yang bertumbuh karena firman Tuhan harus mengeluarkan buah dalam dalam ketekunan.
Kenapa kita percaya Alkitab adalah firman Tuhan? Karena firman Tuhan ini menumbuhkan iman kita, tetapi kita bertanggung jawab untuk mengeluarkan buah dalam ketekunan. Ungkapan ketekunan dalam bahala Yunani disebut "Hupomone” yang berarti dibawah tekanan. Jadi orang yang mengeluarkan buah dalam ketekunan berarti: Ketika didalam tekanan hidup, didalam persoalan, didalam masalah, didalam sakit penyakit, ada kesabaran, ketabahan dalam menantikan janji Tuhan.

Firman: Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel. (Matius 2:5-6)