Keadaan
Gereja pada Masa Peralihan
Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC)
yang dibentuk pada tahun 1602, selain mempunyai fungsi utama sebagai badan
dagang, ternyata juga melaksanakan fungsi politik dan pemeliharaan terhadap
agama Kristen.1
Di masa
kekuasaan badan dagang ini (abad ke-17 dan ke-18) ternyata telah berkembang
suatu corak Kekristenan yang khas di dalam Gereja Protestan di Maluku.
Perkembangan demikian nampaknya tidak dapat dilepaskan dari kondisi riil gereja
pada masa itu. Kehadiran para pendeta dan ziekentrooster bukan saja
dimanfaatkan oleh gereja untuk melayani pegawai VOC tetapi juga untuk
memelihara orang-orang Kristen Ambon yang sebelumnya menganut agama Katolik
Roma yang kemudian di-Protestankan ketika penguasa VOC mengambil alih kekuasaan
di Ambon dari tangan Portugis pada tahun 1605.2 Kekristenan yang
dikembangkan oleh gereja ternyata bukan saja terdapat di “pusat” (produksi
rempah-rempah) tetapi juga di daerah “pinggiran” (yang kurang strategis dari
segi kepentingan dagang). Jemaat Banda, misalnya, dijadikan basis untuk
pekabaran Injil ke pulau-pulau bagian Selatan. Sejak tahun 1635 diadakan
pekabaran Injil ke pulau Kei, kemudian Aru, Tanimbar dan pulau-pulau Selatan
Daya (Babar, Wetar, Leti, dst) dengan memakai tenaga guru. Sampai dengan abad
ke-18 Kekristen-an telah diterima oleh orang-orang Maluku yang terhimpun dalam
jemaat-jemaat dan tersebar di hampir seluruh daerah kepulauan Maluku. Jumlah
mereka telah mencapai puluhan ribu orang. Di Ambon misalnya, tercatat 27.311
anggota yang telah dibaptis dan di Banda 1088 orang.3
Kondisi riil gereja pada masa VOC ditandai a.l. oleh metode penginjilan dan
pembinaan terhadap jemaat yang dipergunakan oleh ziekentrooster yakni
metode “hafalan” (menghafal pokok-pokok ajaran Kristen penting: Doa Bapa Kami,
Pengakuan Iman Rasuli dan Dasa Titah). Juga dalam pembinaan terhadap anggota
jemaat diharapkan agar pola yang dipergunakan adalah sama dengan yang dipakai
oleh gereja induk di Belanda.4 Kalau penguasaan agama Kristen hanya
sampai di tingkat pengetahuan saja yakni menghapal dan memelihara bentuk-bentuk
yang sama sekali asing bagi mereka, maka sudah dapat diduga bahwa isi ajaran
Kristen yang diterima tidak dihayati sepenuhnya dan dengan demikian tidak
berfungsi membarui hidup mereka. Realitas lainnya yang nampak ialah sikap
negatif yang diperlihatkan oleh orang-orang Belanda terhadap agama (dan
adat/kebudayaan) asli setempat. Agama ini dianggap agama setan. Sejalan dengan
itu mereka (termasuk sebagian besar para pendeta) bukannya mempelajari
sungguh-sungguh, melainkan sebaliknya berusaha menghancurkan agama dan
kebudayaan (adat) asli. Namun suatu kekeliruan yang dilakukan tanpa disadari
yaitu mereka merasa puas apabila tempat-tempat dan simbol-simbol agama asli
sudah dirusakkan. Akan tetapi karena itu ternyata isi kepercayaan agama asli
sama sekali tak tersentuh oleh usaha demikian. Unsur-unsur ini tetap hidup dan
berpengaruh dalam kehidupan orang-orang Kristen Maluku.
Realitas dalam kehidupan gereja seperti ini
ternyata telah melahirkan suatu corak Kekristenan yang khas yang ditandai oleh
unsur-unsur kedangkalan penghayatan iman kristiani, sinkritistis dan magis.
Wujudnya terlihat secara jelas misalnya dalam pandangan mereka terhadap
benda-benda yang mempunyai kaitan dengan gereja (Alkitab, roti perjamuan dan
air bekas baptisan, gedung gereja, dan lain-lain.). Benda-benda ini dianggap
bernilai sakral dalam pengertian “keramat” dan memiliki “kekuatan gaib”. Air
bekas baptisan misalnya diyakini mempunyai khasiat menyembuhkan dan diberi
minum kepada orang sakit. Corak Kekristenan demikian dinamakan “agama Ambon”
oleh orang-orang Belanda.5
Pada parohan kedua abad ke-18 VOC mulai
memperlihatkan kemunduran drastis dan akhirnya dibubarkan (31 Desember 1799)
karena faktor-faktor a.l. tindakan korupsi oleh pegawai VOC sendiri dan
persaingan yang ketat dari pihak lawan-lawan dagang-nya terutama Inggris.6
Sejak
kemunduran yang dialami oleh VOC, kondisi demikian ternyata telah berpengaruh
langsung terhadap perkembang-an gereja di daerah kekuasaannya terutama di
Maluku. Hal demikian tidak dapat dihindari karena hampir semua ke-butuhan (a.l.
fasilitas dan tenaga pelayan) dibiayai oleh badan dagang ini. Keterbatasan di
bidang dana menyebabkan terjadi kemerosotan secara menyolok di berbagai bidang
pelayanan, termasuk upaya pengadaan tenaga pelayan.
Dalam situasi kekurangan tenaga-tenaga pelayan khususnya, terutama yang
berkebangsaan Belanda, upaya pembinaan dan pelayanan pada jemaat-jemaat kotapun
cenderung menurun secara drastis. Juga pelayanan sakramen terutama bagi
jemaat-jemaat yang terletak jauh dari pusat tidak dapat dilayankan secara
kontinyu dan teratur bahkan kemudian berhenti sama sekali. Selama tahun 1780-an
masih terdapat tiga pendeta yang melayani jemaat kota Ambon. Kemudian sejak
tahun 1801-1815 tidak ada lagi seorang pendeta di sana. Di Saparua seorang
pendeta masih bertahan sampai tahun 1801. Di Banda dan Ternate situasi tidak
banyak berbeda.7 Fasilitas sebagai penopang pelayanan menjadi tak
terpelihara dan semakin menciut. Kondisi gereja yang demikian, menyebabkan
kinerja pelayanan yang diperlihatkan adalah sangat menurun.
Suatu hal yang agak menggembirakan ialah di
dalam jemaat-jemaat, terutama di sekitar kota Ambon (pulau Ambon, Lease, Seram
Selatan dan Banda) pada beberapa jemaat yang jauh (a.l. pulau-pulau Selatan
Daya, Babar, Wetar, Leti, dst.) masih terdapat tenaga-tenaga pelayan Maluku.
Benar, dari segi latar belakang pendidikan mungkin tidak setinggi bila
dibandingkan dengan rekan-rekan pelayan asal Belanda (Khusus
pendeta-pendeta tamatan Fakultas
Teologi) sehingga dari mereka tidak dapat diharapkan suatu kualitas pelayanan
yang setara. Walaupun demikian dalam kenyataan, sumbangan yang diberikan oleh
kelompok ini cukup penting. Mereka inilah yang tetap berperan melayani dengan
penuh dedikasi sehingga melalui kehadiran dan pelayanan mereka, terutama di pulau-pulau
yang jauh dari pusat, jemaat-jemaat di sana tetap eksis. Warganya tidak kembali
kepada kepercayaan lama (agama suku).
Kesetiaan para pelayan Maluku terhadap tugas
yang diemban dengan latar belakang pendidikan yang rendah, kelangkaan
tenaga-tenaga pelayan Belanda yang berkualitas dan semakin minim dan menciutnya
fasilitas pelayanan menyebabkan kehadiran gereja tetap berlangsung tetapi dalam
kualitas kehidupan kerohanian anggota jemaat dan pengorganisasian gereja yang
sangat rendah dan lemah.