Senin, 05 Juni 2017

KEADAAN GEREJA PADA MASA PERALIHAN



Keadaan Gereja pada Masa Peralihan
Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang dibentuk pada tahun 1602, selain mempunyai fungsi utama sebagai badan dagang, ternyata juga melaksanakan fungsi politik dan pemeliharaan terhadap agama Kristen.1
Di masa kekuasaan badan dagang ini (abad ke-17 dan ke-18) ternyata telah berkembang suatu corak Kekristenan yang khas di dalam Gereja Protestan di Maluku. Perkembangan demikian nampaknya tidak dapat dilepaskan dari kondisi riil gereja pada masa itu. Kehadiran para pendeta dan ziekentrooster bukan saja dimanfaatkan oleh gereja untuk melayani pegawai VOC tetapi juga untuk memelihara orang-orang Kristen Ambon yang sebelumnya menganut agama Katolik Roma yang kemudian di-Protestankan ketika penguasa VOC mengambil alih kekuasaan di Ambon dari tangan Portugis pada tahun 1605.2 Kekristenan yang dikembangkan oleh gereja ternyata bukan saja terdapat di “pusat” (produksi rempah-rempah) tetapi juga di daerah “pinggiran” (yang kurang strategis dari segi kepentingan dagang). Jemaat Banda, misalnya, dijadikan basis untuk pekabaran Injil ke pulau-pulau bagian Selatan. Sejak tahun 1635 diadakan pekabaran Injil ke pulau Kei, kemudian Aru, Tanimbar dan pulau-pulau Selatan Daya (Babar, Wetar, Leti, dst) dengan memakai tenaga guru. Sampai dengan abad ke-18 Kekristen-an telah diterima oleh orang-orang Maluku yang terhimpun dalam jemaat-jemaat dan tersebar di hampir seluruh daerah kepulauan Maluku. Jumlah mereka telah mencapai puluhan ribu orang. Di Ambon misalnya, tercatat 27.311 anggota yang telah dibaptis dan di Banda 1088 orang.3
Kondisi riil gereja pada masa VOC ditandai a.l. oleh metode penginjilan dan pembinaan terhadap jemaat yang dipergunakan oleh ziekentrooster yakni metode “hafalan” (menghafal pokok-pokok ajaran Kristen penting: Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman Rasuli dan Dasa Titah). Juga dalam pembinaan terhadap anggota jemaat diharapkan agar pola yang dipergunakan adalah sama dengan yang dipakai oleh gereja induk di Belanda.4 Kalau penguasaan agama Kristen hanya sampai di tingkat pengetahuan saja yakni menghapal dan memelihara bentuk-bentuk yang sama sekali asing bagi mereka, maka sudah dapat diduga bahwa isi ajaran Kristen yang diterima tidak dihayati sepenuhnya dan dengan demikian tidak berfungsi membarui hidup mereka. Realitas lainnya yang nampak ialah sikap negatif yang diperlihatkan oleh orang-orang Belanda terhadap agama (dan adat/kebudayaan) asli setempat. Agama ini dianggap agama setan. Sejalan dengan itu mereka (termasuk sebagian besar para pendeta) bukannya mempelajari sungguh-sungguh, melainkan sebaliknya berusaha menghancurkan agama dan kebudayaan (adat) asli. Namun suatu kekeliruan yang dilakukan tanpa disadari yaitu mereka merasa puas apabila tempat-tempat dan simbol-simbol agama asli sudah dirusakkan. Akan tetapi karena itu ternyata isi kepercayaan agama asli sama sekali tak tersentuh oleh usaha demikian. Unsur-unsur ini tetap hidup dan berpengaruh dalam kehidupan orang-orang Kristen Maluku.
Realitas dalam kehidupan gereja seperti ini ternyata telah melahirkan suatu corak Kekristenan yang khas yang ditandai oleh unsur-unsur kedangkalan penghayatan iman kristiani, sinkritistis dan magis. Wujudnya terlihat secara jelas misalnya dalam pandangan mereka terhadap benda-benda yang mempunyai kaitan dengan gereja (Alkitab, roti perjamuan dan air bekas baptisan, gedung gereja, dan lain-lain.). Benda-benda ini dianggap bernilai sakral dalam pengertian “keramat” dan memiliki “kekuatan gaib”. Air bekas baptisan misalnya diyakini mempunyai khasiat menyembuhkan dan diberi minum kepada orang sakit. Corak Kekristenan demikian dinamakan “agama Ambon” oleh orang-orang Belanda.5
Pada parohan kedua abad ke-18 VOC mulai memperlihatkan kemunduran drastis dan akhirnya dibubarkan (31 Desember 1799) karena faktor-faktor a.l. tindakan korupsi oleh pegawai VOC sendiri dan persaingan yang ketat dari pihak lawan-lawan dagang-nya terutama Inggris.6
Sejak kemunduran yang dialami oleh VOC, kondisi demikian ternyata telah berpengaruh langsung terhadap perkembang-an gereja di daerah kekuasaannya terutama di Maluku. Hal demikian tidak dapat dihindari karena hampir semua ke-butuhan (a.l. fasilitas dan tenaga pelayan) dibiayai oleh badan dagang ini. Keterbatasan di bidang dana menyebabkan terjadi kemerosotan secara menyolok di berbagai bidang pelayanan, termasuk upaya pengadaan tenaga pelayan.
Dalam situasi kekurangan tenaga-tenaga pelayan khususnya, terutama yang berkebangsaan Belanda, upaya pembinaan dan pelayanan pada jemaat-jemaat kotapun cenderung menurun secara drastis. Juga pelayanan sakramen terutama bagi jemaat-jemaat yang terletak jauh dari pusat tidak dapat dilayankan secara kontinyu dan teratur bahkan kemudian berhenti sama sekali. Selama tahun 1780-an masih terdapat tiga pendeta yang melayani jemaat kota Ambon. Kemudian sejak tahun 1801-1815 tidak ada lagi seorang pendeta di sana. Di Saparua seorang pendeta masih bertahan sampai tahun 1801. Di Banda dan Ternate situasi tidak banyak berbeda.7 Fasilitas sebagai penopang pelayanan menjadi tak terpelihara dan semakin menciut. Kondisi gereja yang demikian, menyebabkan kinerja pelayanan yang diperlihatkan adalah sangat menurun.
Suatu hal yang agak menggembirakan ialah di dalam jemaat-jemaat, terutama di sekitar kota Ambon (pulau Ambon, Lease, Seram Selatan dan Banda) pada beberapa jemaat yang jauh (a.l. pulau-pulau Selatan Daya, Babar, Wetar, Leti, dst.) masih terdapat tenaga-tenaga pelayan Maluku. Benar, dari segi latar belakang pendidikan mungkin tidak setinggi bila dibandingkan dengan rekan-rekan pelayan asal Belanda (Khusus pendeta-pendeta  tamatan Fakultas Teologi) sehingga dari mereka tidak dapat diharapkan suatu kualitas pelayanan yang setara. Walaupun demikian dalam kenyataan, sumbangan yang diberikan oleh kelompok ini cukup penting. Mereka inilah yang tetap berperan melayani dengan penuh dedikasi sehingga melalui kehadiran dan pelayanan mereka, terutama di pulau-pulau yang jauh dari pusat, jemaat-jemaat di sana tetap eksis. Warganya tidak kembali kepada kepercayaan lama (agama suku).
Kesetiaan para pelayan Maluku terhadap tugas yang diemban dengan latar belakang pendidikan yang rendah, kelangkaan tenaga-tenaga pelayan Belanda yang berkualitas dan semakin minim dan menciutnya fasilitas pelayanan menyebabkan kehadiran gereja tetap berlangsung tetapi dalam kualitas kehidupan kerohanian anggota jemaat dan pengorganisasian gereja yang sangat rendah dan lemah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar