LAPORAN BACA
A.
Nama :
Edrik Juliardo
B.
Semester : 5
C.
Dosen : Noh
Ibrahim Boiliu, M. Th.
D.
M.Kuliah :
Teologi Perjanjian Lama 2
E.
Judul Buku : A Biblical Theology of The Old Testament
F.
Pengarang : Roy B. Zuck & Eugene H. Merrill
G.
Penerbit : Gandum Mas
A.
Amsal
- Ajaran tentang Hikmat
i.
Hikmat dan tatanan penciptaan
417-418 Seperti telah dikemukakan sebelumnya, hikmat berarti
memiliki kecakapan dan keberhasilan dalam berbagai hubungan dan tanggung jawab.
Hikmat berkaitan dengan hal mengamati dan menuruti prinsip-prinsip tatanan
dalam alam semesta yang bermoral dan yang dijadikan sang Pencipta. Tatanan ini
menyatakan hikmat Allah yang tersedia bagi manusia. Jadi, sejauh menuruti
tatanan ini, dia dikatakan memiliki hikmat. Memperhatikan hikmat dari Kitab
Amsal, mendatangkan keserasian dalam hidup seseorang. Sebaliknya, mengabaikan
rancangan ilahi Allah mendatangkan kekacauan. Ketidaktaatan pada jalan-jalan
yang bijaksana dari Allah menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tidak
menyenangkan dan mencelakakan bagi orang itu sendiri maupun orang lain.
ii.
Nilai hikmat
418 Karena bernilai tinggi bagi karakter orang yang bijaksana,
maka hikmat diibaratkan dengan perak dan harta tersembunyi (2:4). Sebenarnya
nilainya melebihi emas, perak, atau permata (3:14-15; 8:10-11, 19; 16:16).
Orang berhikmat mengerti kebenaran, keadilan, dan kejujuran (2:9; 8:15-16), dia
dilindungi atau terpelihara dari kejahatan (2:8, 11-12, 16; 4:6; 6:24; 7:5;
14:3), dan memiliki keberhasilan dan kekayaan (3:2, 16; 8:18, 21; 9:12; 14:24;
16:20; 21:20-21; 22:4), kesehatan dan makanan bergizi (3:8; 4:22), pertolongan
dan nama baik (3:4; 8:34-35; 13:15), kehormatan (3:16, 35; 4:8-9; 8:18; 21:21),
keamanan dan keselamatan (1:33; 3:22-23; 4:12; 12:21; 22:3; 28:26), damai
sejahtera (1:33; 3:17-24), keyakinan (3:25-26), pimpinan (6:22), kehidupan
(3:2, 16, 18, 22; 4:10, 22; 6:23; 8:35; 9:11; 10:16-17, 27; 11:19; 16:22;
19:23; 22:4), kesehatan (4:22), dan harapan (23:18; 24:14).
iii.
Personifikasi dari hikmat
421 Memberikan ciri-ciri pribadi atau orang kepada obyek-obyek
tidak bernyawa atau gagasan abstrak adalah hal yang lazim dalam Perjanjian
Lama. Gunung-gunung bernyanyi dan pohon-pohon bertepuk tangan (Yes. 55:12),
kebenaran tersandung (59:14), dan lidah membenci (Ams. 26:28) merupakan
contoh-contoh personifikasi. Tidak mengherankan jika hikmat dipersonifikasikan
dalam Amsal. Kenyataan bahwa hikmat dipersonifikasikan sebagai seorang
perempuan dapat dijelaskan sebagian dengan fakta bahwa kata benda hokmah
bertasrif feminism. Alasan lain kenapa hikmat dikatakan menarik seperti perempuan.
Sama seperti laki-laki bisa tertarik dan memiliki hasrat pada kecantikan
perempuan, demikianlah dia semestinya menanggapi dan memiliki hasrat pada
hikmat. Personifikasi hikmat juga menambah perbedaan antara hikmat dan
kebodohan. Kebodohan yang juga dipersonifikasikan sebagai perempuan (9:13-18),
yang berusaha menarik pria untuk mengikutinya. Sama seperti perempuan-perempuan
sundal yang menggoda laki-laki melakukan perbuatan terlarang yang mendatangkan
akibat-akibat mengerikan (“kematian”), demikian juga kebodohan dapat membuat
orang-orang berbuat tidak pantas yang mengakibatkan kekalahan dan kematian.
Hikmat ditampilkan sebagai seorang nabiah (1:20-23; 8:1-21), saudara perempuan
(7:4), seorang anak (8:22-31), seorang nyonya atau kepala pelayan (9:1-6).
422 Hikmat mempunyai peranan khusus dalam karya penciptaan Allah
(8:22-31). Ia sudah ada sebelum dunia diciptakan (ay. 22-26), dan ia bersuka
ria ketika berada di samping-Nya menyaksikan Dia menciptakan dunia (ay. 27-31).
424 Ketika Allah menciptakan dunia, hikmat ada serta-Nya atau di
samping-Nya, artinya karya penciptaan yang dilakukan-Nya adalah satu karya yang
berhikmat.
- Ajaran tentang Allah
i.
Nama-Nya
427 Kitab Amsal memakai nama Yahweh [dalam Alkitab disalin
TUHAN] sebanyak delapan tujuh kali, sementara kata Elohim muncul hanya tujuh
kali (2:5, 17; 3:4; 14:31; 25:2; 30:5, 9) dan Eloah muncul satu kali (30:5).
Allah juga disebut Yang Mahakudus (9:10; 30:30), Yang Mahaadil (21:12), Yang
Membela Perkara (23:11), dan Pencipta (14:31; 17:5; 22:2).
ii.
Sifat-sifat-Nya
427-428 Sifat-sifat Allah yang diterangkan
dalam Kitab Amsal mencakup kekudusan-Nya (Yang Mahakudus,” 9:10; 30:3),
kemahahadiran-Nya (5:21; 15:3), kemahakuasaan-Nya (sebagai sang Pencipta alam
semesta [3:19-20; 8:22-31; 30:4] dan telinga dan mata manusia [20:12; 29:13],
Pencipta orang miskin [14:31; 17:5; 22:2] maupun orang kaya [22:2], dan
kemahatahuan-Nya (dalam menilik dan mengetahui kematian [15:11], perilaku
manusia [5:21; 21:2], motivasi manusia [16:2], dan hati manusia [17:3; 20:27;
24:12] dan dalam melihat yang baik dan yang jahat [15:3], dan orang-orang yang
senang melihat orang lain celaka [4:16-17]. Allah juga mempunyai kedaulatan,
mengerjakan segala sesuatu untuk maksud-maksud-Nya [16:4; 19:21], bahkan
menetapkan keputusan-keputusan manusia [16:33] dana rah langkah manusia [ay. 9]
mengarahkan hati (atau kepentingan dan keputusan-keputusan) raja [21:1], dan
menggantikan setiap rencana manusia [19:21; 21:30]. Allah mempunyai hikmat
(3:19-20) dan keadilan. Melalui keadilan-Nya (29:26) Dia menjadi yang Mahaadil
(21:12) yang menggagalkan dan menghukum orang fasik (3:33; 10:3; 11:8; 21:12;
22:12), orang licik (12:2), dan orang congkak (15:25), dan Dia membela orang
lemah dan tertindas (22:22-23; 23:10-11). Keadilan-Nya tidak memandang muka karena
Dia membalas orang menurut perbuatannya (20:22; 24:12). Kepribadian Allah jelas
dalam hal Dia mengasihi dan memberikan didikan atau teguran (3:12), membenci
perkara-perkara tertentu (6:16:19), kesukaan-Nya (akan kejujuran dalam
berniaga, 11:1; dan akan perilaku yang tak bercela, ay. 20 [bdg. 16:7a]; akan
orang yang berlaku setia; dan akan doa-doa dan kebenaran orang yang takut
kepada Allah, 15:8-9).
iii.
Perbuatan-perbuatan-Nya
428-429 Paragraf-paragraf yang terdahulu menunjukkan bahwa
sifat-sifat Allah menyingkapkan perbuatan-perbuatan-Nya. Antara lain
menciptakan, melihat, mengawasi, memberikan tujuan, mempengaruhi, mengarahkan,
menghukum, membela, membenci, mengasihi, dan memperlihatkan kesukaan. Perbuatan-perbuatan
lain termasuk memberikan hikmat (1:7; 2:6), memberikan anugerah kepada orang
yang rendah hati (3:34), melindungi orang benar (2:7-8; 3:26; 10:29; 14:26;
15:25; 18:10; 19:23; 29:25; 30:5), memelihara orang benar (10:3), menyelamatkan
orang benar (20:22), memberkati kehidupan (10:27), memberikan isteri yang bijak
kepada para lelaki (18:22; 19:14), membimbing orang yang percaya kepada-Nya
(3:5-6), memberikan perkataan yang harus diucapkan orang (16:1), mengarahkan
langkah-langkah orang (ay. 9; 20:24) dan keputusan-keputusannya (16:33), dan
mendengarkan doa-doa orang benar (15:29).
- Ajaran tentang Manusia
429 Amsal sering menggunakan ungkapan tentang langkah atau
jalan, seperti yang sudah dinyatakan. Melalui metomini sebuah langkah atau
jalan akhirnya menggambarkan perilaku hidup orang yang berjalan ke arah itu
atau sepanjang jalan itu. Ungkapan ini menyarankan pilihan, satu keputusan
mengenai yang mana dari dua jenis hidup seseorang hendak jalani. Dua ajakan
yang berlawanan – mengikuti perilaku yang hikmat atau perilaku yang bodoh (8:1;
9:1-6, 13-18) – meminta kita memilih. Kiasan ini juga meminta perhatian akan
akhir yang berbeda dari jalan itu, konsekuensi dari dua jenis jalan hidup. Dua
jalan itu ialah jalan hidup orang benar dan jalan hidup orang fasik, yang juga
dikenal sebagai jalan hikmat dan jalan kebodohan. Semua orang bisa
benar/berhikmat atau fasik/bodoh. Jalan kebenaran atau hikmat adalah jalan
kebajikan, sementara jalan kefasikan atau kebodohan adalah jalan jahat.
436 Teologi Kitab Amsal yang luas dan mencakup semua topik,
menggambarkan secara jelas dua jalan (jenis tingkah laku) hikmat/kebenaran dan
kebodohan/kefasikan. Hal itu diterangkan sangat beragam, secara rumit
menguraikan ciri-ciri dan konsekuensi-konsekuensi dua jalan itu. Tidak seorang
pun bisa menjadi benar-benar bijak (berhasil dalam hidup), tanpa takut akan
Tuhan dan mengindahkan perintah-perintah langsung, peringatan-peringatan keras,
ketaatan yang keras, dan penyelidikan terhadap peribahasa-peribahasa yang
disajikan dalam Kitab Amsal.
B.
Tanggapan
Kitab Amsal mewakili warisan dari orang-orang
bijaksana Ibrani. Orang-orang bijaksana adalah para penasihat yang biasanya
dikaitkan dengan istana raja seperti digambarkan dalam kitab Amsal. Mereka
adalah penyusun dan penghimpun sastra hikmat, baik dari Bahasa Ibrani maupun
dari Bahasa-bahasa asing lainnya. Sebagai para pengajar tradisi hikmat sasaran
mereka adalah menimbang, menguji, dan menyusun banyak Amsal. Kata Amsal berasal
dari Bahasa Ibrani “Masyal” yang akar katanya berarti menyerupai atau
dibandingkan dengan. Lebih luas kata ini berarti termasuk gagasan,
perbandingan, peraturan tingkah laku, dan penemuan kebenaran yang tersembunyi.
Pada dasarnya Kitab Amsal adalah sekumpulan perbandingan atau dasar pengamatan
dan pemikiran yang bermaksud untuk mengajar orang-orang dalam tingkah laku yang
benar. Secara terperinci tujuan Kitab ini dinyatakan dalam prolog kumpulan
hikmat yaitu;
1) Mengetahui hikmat dan pengajaran.
2) Menerima didikan untuk bertindak
dengan bijaksana.
3) Memberikan kecerdasan kepada
orang-orang sederhana dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.
4) Meningkatkan kemauan belajar dan
kecakapan dalam pengertian.
5) Mengerti Amsal, perumpamaan,
perkataan orang bijak, dan teka teki.
6) Belajar takut akan Tuhan.
Dalam
Kitab Amsal terdapat pokok teologis tentang Allah. Dalam hal ini manusia harus
takut akan Allah, artinya:
1) Manusia harus mengenal Tuhan dan
mengerti perintah-Nya (2:5; 9:10; 3:6).
2) Manusia harus percaya firman Tuhan
dalam segala hal (3:5-6; 19:21; 21:31; 29:25).
Kitab
Amsal juga membahas pokok teologis tentang hikmat. Hikmat mempunyai beberapa
sifat/karakteristik, yaitu pengertian /akal budi (1:2; 6:32; 10:13);
didikan/teguran (1:2-3, 23; 3:11); kepandaian (1:3; 2:2, 6);
kecerdasan/kebijaksanaan (1:4; 22:3); pengetahuan/ilmu (1:5, 7; 2:10).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar