Senin, 05 Juni 2017

GBU


LAPORAN BACA

A.    Nama              : Edrik Juliardo
B.     Semester         : 5
C.     Dosen              : Noh Ibrahim Boiliu, M. Th.
D.    M.Kuliah        : Teologi Perjanjian Lama 2
E.     Judul Buku    : A Biblical Theology of The Old Testament
F.      Pengarang      : Roy B. Zuck & Eugene H. Merrill
G.    Penerbit          : Gandum Mas


A.     Amsal
  1. Ajaran tentang Hikmat
                                i.            Hikmat dan tatanan penciptaan
417-418 Seperti telah dikemukakan sebelumnya, hikmat berarti memiliki kecakapan dan keberhasilan dalam berbagai hubungan dan tanggung jawab. Hikmat berkaitan dengan hal mengamati dan menuruti prinsip-prinsip tatanan dalam alam semesta yang bermoral dan yang dijadikan sang Pencipta. Tatanan ini menyatakan hikmat Allah yang tersedia bagi manusia. Jadi, sejauh menuruti tatanan ini, dia dikatakan memiliki hikmat. Memperhatikan hikmat dari Kitab Amsal, mendatangkan keserasian dalam hidup seseorang. Sebaliknya, mengabaikan rancangan ilahi Allah mendatangkan kekacauan. Ketidaktaatan pada jalan-jalan yang bijaksana dari Allah menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tidak menyenangkan dan mencelakakan bagi orang itu sendiri maupun orang lain.
                              ii.            Nilai hikmat
418 Karena bernilai tinggi bagi karakter orang yang bijaksana, maka hikmat diibaratkan dengan perak dan harta tersembunyi (2:4). Sebenarnya nilainya melebihi emas, perak, atau permata (3:14-15; 8:10-11, 19; 16:16). Orang berhikmat mengerti kebenaran, keadilan, dan kejujuran (2:9; 8:15-16), dia dilindungi atau terpelihara dari kejahatan (2:8, 11-12, 16; 4:6; 6:24; 7:5; 14:3), dan memiliki keberhasilan dan kekayaan (3:2, 16; 8:18, 21; 9:12; 14:24; 16:20; 21:20-21; 22:4), kesehatan dan makanan bergizi (3:8; 4:22), pertolongan dan nama baik (3:4; 8:34-35; 13:15), kehormatan (3:16, 35; 4:8-9; 8:18; 21:21), keamanan dan keselamatan (1:33; 3:22-23; 4:12; 12:21; 22:3; 28:26), damai sejahtera (1:33; 3:17-24), keyakinan (3:25-26), pimpinan (6:22), kehidupan (3:2, 16, 18, 22; 4:10, 22; 6:23; 8:35; 9:11; 10:16-17, 27; 11:19; 16:22; 19:23; 22:4), kesehatan (4:22), dan harapan (23:18; 24:14).
                            iii.            Personifikasi dari hikmat
421 Memberikan ciri-ciri pribadi atau orang kepada obyek-obyek tidak bernyawa atau gagasan abstrak adalah hal yang lazim dalam Perjanjian Lama. Gunung-gunung bernyanyi dan pohon-pohon bertepuk tangan (Yes. 55:12), kebenaran tersandung (59:14), dan lidah membenci (Ams. 26:28) merupakan contoh-contoh personifikasi. Tidak mengherankan jika hikmat dipersonifikasikan dalam Amsal. Kenyataan bahwa hikmat dipersonifikasikan sebagai seorang perempuan dapat dijelaskan sebagian dengan fakta bahwa kata benda hokmah bertasrif feminism. Alasan lain kenapa hikmat dikatakan menarik seperti perempuan. Sama seperti laki-laki bisa tertarik dan memiliki hasrat pada kecantikan perempuan, demikianlah dia semestinya menanggapi dan memiliki hasrat pada hikmat. Personifikasi hikmat juga menambah perbedaan antara hikmat dan kebodohan. Kebodohan yang juga dipersonifikasikan sebagai perempuan (9:13-18), yang berusaha menarik pria untuk mengikutinya. Sama seperti perempuan-perempuan sundal yang menggoda laki-laki melakukan perbuatan terlarang yang mendatangkan akibat-akibat mengerikan (“kematian”), demikian juga kebodohan dapat membuat orang-orang berbuat tidak pantas yang mengakibatkan kekalahan dan kematian. Hikmat ditampilkan sebagai seorang nabiah (1:20-23; 8:1-21), saudara perempuan (7:4), seorang anak (8:22-31), seorang nyonya atau kepala pelayan (9:1-6).

422 Hikmat mempunyai peranan khusus dalam karya penciptaan Allah (8:22-31). Ia sudah ada sebelum dunia diciptakan (ay. 22-26), dan ia bersuka ria ketika berada di samping-Nya menyaksikan Dia menciptakan dunia (ay. 27-31).
424 Ketika Allah menciptakan dunia, hikmat ada serta-Nya atau di samping-Nya, artinya karya penciptaan yang dilakukan-Nya adalah satu karya yang berhikmat.

  1. Ajaran tentang Allah
                                i.            Nama-Nya
427 Kitab Amsal memakai nama Yahweh [dalam Alkitab disalin TUHAN] sebanyak delapan tujuh kali, sementara kata Elohim muncul hanya tujuh kali (2:5, 17; 3:4; 14:31; 25:2; 30:5, 9) dan Eloah muncul satu kali (30:5). Allah juga disebut Yang Mahakudus (9:10; 30:30), Yang Mahaadil (21:12), Yang Membela Perkara (23:11), dan Pencipta (14:31; 17:5; 22:2).
                              ii.            Sifat-sifat-Nya
427-428  Sifat-sifat Allah yang diterangkan dalam Kitab Amsal mencakup kekudusan-Nya (Yang Mahakudus,” 9:10; 30:3), kemahahadiran-Nya (5:21; 15:3), kemahakuasaan-Nya (sebagai sang Pencipta alam semesta [3:19-20; 8:22-31; 30:4] dan telinga dan mata manusia [20:12; 29:13], Pencipta orang miskin [14:31; 17:5; 22:2] maupun orang kaya [22:2], dan kemahatahuan-Nya (dalam menilik dan mengetahui kematian [15:11], perilaku manusia [5:21; 21:2], motivasi manusia [16:2], dan hati manusia [17:3; 20:27; 24:12] dan dalam melihat yang baik dan yang jahat [15:3], dan orang-orang yang senang melihat orang lain celaka [4:16-17]. Allah juga mempunyai kedaulatan, mengerjakan segala sesuatu untuk maksud-maksud-Nya [16:4; 19:21], bahkan menetapkan keputusan-keputusan manusia [16:33] dana rah langkah manusia [ay. 9] mengarahkan hati (atau kepentingan dan keputusan-keputusan) raja [21:1], dan menggantikan setiap rencana manusia [19:21; 21:30]. Allah mempunyai hikmat (3:19-20) dan keadilan. Melalui keadilan-Nya (29:26) Dia menjadi yang Mahaadil (21:12) yang menggagalkan dan menghukum orang fasik (3:33; 10:3; 11:8; 21:12; 22:12), orang licik (12:2), dan orang congkak (15:25), dan Dia membela orang lemah dan tertindas (22:22-23; 23:10-11). Keadilan-Nya tidak memandang muka karena Dia membalas orang menurut perbuatannya (20:22; 24:12). Kepribadian Allah jelas dalam hal Dia mengasihi dan memberikan didikan atau teguran (3:12), membenci perkara-perkara tertentu (6:16:19), kesukaan-Nya (akan kejujuran dalam berniaga, 11:1; dan akan perilaku yang tak bercela, ay. 20 [bdg. 16:7a]; akan orang yang berlaku setia; dan akan doa-doa dan kebenaran orang yang takut kepada Allah, 15:8-9).
                            iii.            Perbuatan-perbuatan-Nya
428-429 Paragraf-paragraf yang terdahulu menunjukkan bahwa sifat-sifat Allah menyingkapkan perbuatan-perbuatan-Nya. Antara lain menciptakan, melihat, mengawasi, memberikan tujuan, mempengaruhi, mengarahkan, menghukum, membela, membenci, mengasihi, dan memperlihatkan kesukaan. Perbuatan-perbuatan lain termasuk memberikan hikmat (1:7; 2:6), memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati (3:34), melindungi orang benar (2:7-8; 3:26; 10:29; 14:26; 15:25; 18:10; 19:23; 29:25; 30:5), memelihara orang benar (10:3), menyelamatkan orang benar (20:22), memberkati kehidupan (10:27), memberikan isteri yang bijak kepada para lelaki (18:22; 19:14), membimbing orang yang percaya kepada-Nya (3:5-6), memberikan perkataan yang harus diucapkan orang (16:1), mengarahkan langkah-langkah orang (ay. 9; 20:24) dan keputusan-keputusannya (16:33), dan mendengarkan doa-doa orang benar (15:29).
  1. Ajaran tentang Manusia
429 Amsal sering menggunakan ungkapan tentang langkah atau jalan, seperti yang sudah dinyatakan. Melalui metomini sebuah langkah atau jalan akhirnya menggambarkan perilaku hidup orang yang berjalan ke arah itu atau sepanjang jalan itu. Ungkapan ini menyarankan pilihan, satu keputusan mengenai yang mana dari dua jenis hidup seseorang hendak jalani. Dua ajakan yang berlawanan – mengikuti perilaku yang hikmat atau perilaku yang bodoh (8:1; 9:1-6, 13-18) – meminta kita memilih. Kiasan ini juga meminta perhatian akan akhir yang berbeda dari jalan itu, konsekuensi dari dua jenis jalan hidup. Dua jalan itu ialah jalan hidup orang benar dan jalan hidup orang fasik, yang juga dikenal sebagai jalan hikmat dan jalan kebodohan. Semua orang bisa benar/berhikmat atau fasik/bodoh. Jalan kebenaran atau hikmat adalah jalan kebajikan, sementara jalan kefasikan atau kebodohan adalah jalan jahat.
436 Teologi Kitab Amsal yang luas dan mencakup semua topik, menggambarkan secara jelas dua jalan (jenis tingkah laku) hikmat/kebenaran dan kebodohan/kefasikan. Hal itu diterangkan sangat beragam, secara rumit menguraikan ciri-ciri dan konsekuensi-konsekuensi dua jalan itu. Tidak seorang pun bisa menjadi benar-benar bijak (berhasil dalam hidup), tanpa takut akan Tuhan dan mengindahkan perintah-perintah langsung, peringatan-peringatan keras, ketaatan yang keras, dan penyelidikan terhadap peribahasa-peribahasa yang disajikan dalam Kitab Amsal.
   
B.     Tanggapan
 Kitab Amsal mewakili warisan dari orang-orang bijaksana Ibrani. Orang-orang bijaksana adalah para penasihat yang biasanya dikaitkan dengan istana raja seperti digambarkan dalam kitab Amsal. Mereka adalah penyusun dan penghimpun sastra hikmat, baik dari Bahasa Ibrani maupun dari Bahasa-bahasa asing lainnya. Sebagai para pengajar tradisi hikmat sasaran mereka adalah menimbang, menguji, dan menyusun banyak Amsal. Kata Amsal berasal dari Bahasa Ibrani “Masyal” yang akar katanya berarti menyerupai atau dibandingkan dengan. Lebih luas kata ini berarti termasuk gagasan, perbandingan, peraturan tingkah laku, dan penemuan kebenaran yang tersembunyi. Pada dasarnya Kitab Amsal adalah sekumpulan perbandingan atau dasar pengamatan dan pemikiran yang bermaksud untuk mengajar orang-orang dalam tingkah laku yang benar. Secara terperinci tujuan Kitab ini dinyatakan dalam prolog kumpulan hikmat yaitu;
1)      Mengetahui hikmat dan pengajaran.
2)      Menerima didikan untuk bertindak dengan bijaksana.
3)      Memberikan kecerdasan kepada orang-orang sederhana dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda.
4)      Meningkatkan kemauan belajar dan kecakapan dalam pengertian.
5)      Mengerti Amsal, perumpamaan, perkataan orang bijak, dan teka teki.
6)      Belajar takut akan Tuhan.
Dalam Kitab Amsal terdapat pokok teologis tentang Allah. Dalam hal ini manusia harus takut akan Allah, artinya:
1)      Manusia harus mengenal Tuhan dan mengerti perintah-Nya (2:5; 9:10; 3:6).
2)      Manusia harus percaya firman Tuhan dalam segala hal (3:5-6; 19:21; 21:31; 29:25).
Kitab Amsal juga membahas pokok teologis tentang hikmat. Hikmat mempunyai beberapa sifat/karakteristik, yaitu pengertian /akal budi (1:2; 6:32; 10:13); didikan/teguran (1:2-3, 23; 3:11); kepandaian (1:3; 2:2, 6); kecerdasan/kebijaksanaan (1:4; 22:3); pengetahuan/ilmu (1:5, 7; 2:10).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar